SINDOSOLONEWS.COM | SOLO – Puluhan tenaga pendidik dari SD Muhammadiyah 1 Solo dan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Tahun 2026 dari Universitas Muhammadiyah Surakarta mengikuti Workshop Sekolah Model Pembelajaran Mendalam, Coding dan Kecerdasan Artifisial di Red Chilies Hotel Surakarta, Sabtu (11/04/2026).
Kepala Sekolah, Sri Sayekti, menjelaskan untuk membangun generasi 5.0 yang berakar kuat dan berwawasan luas, keimanan menuntut Tindakan nyata dan adaptasi.
Mulai dengan berkesadaran penuh pada sesi workshop berlangsung. Hadir seutuhnya melibatkan pikiran hati dan sepenuhnya di kegiatan. Fokus dan proporsional gunakan smartphone sepenuhnya, kosongkan gelas untuk menerima wawasan dan paradigma baru.
“Menguasai teknologi koding dan AI adalah bentuk pencarian ilmu untuk mengangkat derajat kemanusiaan bukan sekedar mengikuti tren. Ikut workshop dari internal sekolah sebanyak 43 dan 5 dari UMS,” ungkap Sayekti.
Lebih lanjut, Sayekti mengatakan akar filosofisnya adalah DNA Pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. Mengoptimalkan penggunaan akal untuk menemukan kebenaran sejati. Dulu KH Ahmad Dahlan mengubah sistem pendidikan kolonial menjadi Pendidikan holistik.
“Sekarang era 5.0, mengoptimalkan akal melalui penguasaan kecerdasan artifisial dan logika komputasi (koding) untuk kemanfaatan bersama. Mari membangun mentalitas sang singa. Untuk berlaih dari pembelajaran dangkal, guru membutuhkan change mindset,” ujarnya, dengan penuh semangat.
Sayekti menyebut apa yang sesungguhnya dirindu dan dibutuhkan murid untuk bertahan serta memimpin di era 5.0.
“Ketrampilan masa depan bisa di awali dari kefasihan menggunakan perangkat dan sistem digital, berpikir kritis dengan kemampuan memfilter informasi di lautan data AI, kreativitas dengan melahirkan solusi yang tidak bisa diotomatisasi mesin, lalu adaptasi ketangkasan merespons perubahan yang eksponensial dan kolaborasi bagaimana bekerja sama melintasi batas fisik dan digital,” tuturnya.
Kemudian, mengapa pembelajaran dangkal gagal di era AI.
“Hanya berkonsentrasi pada hafalan, AI jauh lebih hebat dalam menghafal. Berorientasi pada kepatuhan instruksi semata, siswa hanya menjadi penerima ilmu pasif dan tidak ada interaksi mendalam dengan ide dan konsep,” pungkasnya.
(Obie/r./Dwi Jatmiko)








