TNI Bangun Jembatan Garuda di Mamasa, Target Rampung Kurang dari 1 Bulan

banner 120x600

Mamasa – Pembangunan Jembatan Garuda di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menjadi langkah konkret TNI dalam menjawab kebutuhan infrastruktur vital masyarakat di wilayah terpencil. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari satu bulan.

Program tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Maruli Simanjuntak, selaku Dansatgas Jembatan Garuda. Ia memerintahkan seluruh jajaran satuan teritorial untuk mendata serta memprioritaskan pembangunan dan perbaikan jembatan yang mendesak di berbagai daerah.

Puluhan Jembatan di Mamasa Butuh Perbaikan

Kabupaten Mamasa yang didominasi wilayah perbukitan dan pegunungan menjadikan keberadaan jembatan sangat krusial sebagai penghubung antarwilayah. Berdasarkan data awal, sedikitnya 78 jembatan di daerah ini membutuhkan perbaikan.

Kondisi tersebut semakin mendesak setelah insiden anak-anak yang terjatuh dari jembatan beberapa waktu lalu. Peristiwa ini menjadi perhatian serius Komandan Kodim 1428/Mamasa, Edwin Hermawan.

Sebagai respons cepat, pihaknya mengajukan permohonan ke Mabesad agar pembangunan jembatan diprioritaskan demi menjamin keselamatan masyarakat.

Pembangunan Libatkan TNI dan Warga

Saat ini, pembangunan Jembatan Garuda di Desa Tadisi dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan personel TNI bersama masyarakat setempat. Proses pengerjaan juga dipantau langsung oleh Dandim untuk memastikan progres berjalan sesuai target.

Selain meningkatkan keselamatan, pembangunan jembatan ini diharapkan mampu memperlancar akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi warga.

Program ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan infrastruktur serta memperkuat konektivitas antarwilayah, khususnya di daerah terpencil.

Target Rampung Kurang dari Satu Bulan

Dalam keterangannya, Edwin Hermawan menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

“Kami melihat langsung kondisi di lapangan. Jembatan ini menjadi akses utama masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Karena itu, pembangunan kami percepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengerjaan dilakukan secara gotong royong sebagai wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Meski terkendala cuaca hujan dalam beberapa hari terakhir, pihaknya tetap optimistis pembangunan dapat selesai tepat waktu.

“Kami targetkan kurang dari satu bulan sudah rampung, dengan kerja sama yang solid antara TNI dan masyarakat,” tambahnya.

Memasuki hari kelima pengerjaan, tantangan cuaca masih menjadi kendala utama. Namun semangat kebersamaan di lapangan diyakini mampu mempercepat penyelesaian proyek demi meningkatkan keselamatan dan konektivitas wilayah Mamasa.